Menggagalkan Perampokan di Rumah Tetangga

Saya adalah seorang hakim pada salah satu PN di Semarang. Sehari-hari saya banyak bergaul dengan perkara, pembuktian kebenaran dan keputusan. Sudah banyak perkara yang saya putuskan. Masing-masing perkara mempunyai bobot, waktu dan resiko yang berbeda-beda. Kadang ada persidangan yang membutuhkan waktu sangat lama untuk memutuskan perkara. Kadang juga ada yang sangat singkat.

Pekerjaan saya tergolong pekerjaan yang sangat beresiko. Pada setiap perkara yang saya putuskan, kebanyakan mengandung ancaman. Sangat sering saya dan keluarga mendapatkan teror baik lewat telephone, sms, surat kaleng, mau pun gelagat orang-orang yang tak saya kenal. Rata-rata mereka mengancam saya untuk memberikan keputusan yang menguntungkan mereka.

Saya sadari profesi saya sebagai hakim sangat beresiko, saya pun harus menyiapkan tameng baik fisik maupun metafisik. Dalam hal fisik misalnya saya kerap memakai rompi anti peluru, di rumah saya pasang banyak sisi tv serta selalu ada penjaga dan banyak usaha lainnya. Usaha secara metafisik saya lakukan dengan menanam benda pusaka di area rumah saya dan dengan bekal benda pusaka yang saya miliki. Kedua jenis perlindungan itu haruslah berjalan bersama untuk menjamin keselamatan dari ancaman-ancaman keduniaan.

Saya memiliki Keris Segoro Geni dari Abah Sabrangu sebagai pendukung profesi saya. Banyak manfaat yang ditawarkan keris itu. salah satunya adalah saya menjadi berwibawa dan ditakuti oleh siapa pun yang akan berniat jahat. Setiap orang yang berniat jahat, jika saya gertak pasti akan turun mentalnya dan menjadi ketakutan sendiri.

Hal itu telah saya buktikan sendiri. Saat itu lewat tengah malam. Kebetulan saya saat itu belum tidur dan masih duduk-duduk di taman depan rumah. Secara tidak sengaja saya melihat sekawanan orang yang akan berniat jahat di rumah tetangga saya. Saya pun memastikan sebenarnya siapa dan akan berniat apa mereka. Setelah saya amati lama, saya mendapatkan kesimpulan bahwa mereka adalah perampok.

Tidak berpikir panjang, saya pun cepat menghampiri dua orang perampok itu. “Mau apa kalian. Berhenti disitu.” Gertak saya saat itu. Mereka kelihatan sangat kebingungan dan malah minta ampun pada saya. “Jangan minta ampun pada saya. Minta ampun lah pada yang punya rumah ini.” Perintah saya. Mendengar suara saya keras, tetangga pun mulai berdatangan, termasuk yang punya rumah itu. Setelah di dirembuk, akhirnya mereka pun diserahkan ke Polsek terdekat.

Itu hanya salah satu bukti pamor dari keris yang saya miliki. Sebenarnya masih banyak bukti-bukti lain yang saya rasakan. Mungkin saya akan ceritakan pada kesempatan yang lain.  Terimakasih Abah Sabrang.

 

Taufiqul Mubarok, M.H.

Semarang