Pusat Metafisika Asia

Perumahan Kapling Pengkol

Jl Kayu Tangan 2, No 29

Kec Jepara, Kab Jepara

Jawa Tengah, Indonesia - 59451

 

Staf Administrasi

Call/SMS: 081226888103

metafisika103@gmail.com

PIN BB :79398E99

Whatsapp :081 226 888 103

Yahoo! Messenger

 

 

Konsultan Metafisika

Call/SMS: 081226888106

metafisika106@gmail.com

Yahoo! Messenger

 

Hari & Jam Kerja

Senin-Sabtu, 08:00-16:00 WIB

Minggu & tanggal merah kami libur

Diluar jam kerja, bisa Email/SMS

 

praktik ki sabrang alam di jakarta

 

ki sabrang alam di acara kompas tv

 

Abah Sabrang

 

Situs JualKeris.Com ini merupakan situs yang menyediakan pusaka keris nusantara koleksi Abah Sabrang Alam. Berikut adalah biografi atau sejarah singkat Abah Sabrang Alam.

 

Abah Sabrang Alam dikenal sebagai Pakar Pusaka dan Mistik Jawa. Pria yang gemar tirakat (puasa dan riyadhoh) ini punya pemahaman mendalam tentang pusaka dan bernda-benda budaya warisan leluhur, terutama keris sebagai warisan budaya Jawa. Abah Sabrang Alam juga hobi mengoleksi benda bertuah yang didapatkannya dari berbagai tempat keramat atau barter dengan orang lain.

 

Tahun 1985, di Jawa Tengah, Abah Sabrang Alam lahir dan diberi nama Wawan Sulistiyo. Beliau tidak lahir dari keluarga spiritualis, melainkan dari keluarga sederhana. Garis kehidupan atau takdir Tuhan-lah yang membentuk Abah Sabrang Alam menjadi seorang Pakar Pusaka dan kolektor benda-benda bersejarah. beliau juga mempunyai berbagai pengalaman metafisik. Sehingga melibatkan beliau pada hal-hal mistik dan spiritual. Keterlibatan Abah Sabrang Alam dengan dunia metafisika diawali dengan pengalaman mati suri dan pertemuan beliau dengan sosok gaib. Sosok gaib itulah yang menjadi guru pertama dan mengajarinya dasar-dasar ilmu gaib.

 

 

Awal Kecintaan Pada Pusaka

Sebagai seorang pemuda yang terlahir dari keluarga yang begitu lekat kecintaannya pada benda peninggalan leluhur. Membentuk sosok pribadi Abah Sabrang Alam sebagai seseorang yang mengenal dan mencintai berbagai jenis pusaka nusantara, terutama pusaka keris dari tanah Jawa. Keris Pusaka yang pertama kali yang beliau miliki adalah pusaka kecil berbilah luk 5 dengan sorsoran nagasasra. Keris berukuran kecil tersebut sering juga disebut sebagai cundrik.

 

Keris tersebut diberikan secara langsung oleh kakek beliau. Kepada Abah Sabrang Alam, sang kakek selalu berpesan, bahwa hidup itu selayaknya filosofi keris. Sekalipun ia adalah benda tajam, ia selalu disematkan di belakang pinggang. Ini mencerminkan bahwa menjadi manusia yang baik yaitu manusia yang tidak semena-mena menunjukkan kekuatannya kepada orang lain.


Lambat laun, kecintaan Abah Sabrang Alam kepada pusaka pun semakin menguat. Terutama setelah bertemu dengan salah seorang kawan pemerhati pusaka. Kepada kawan tersebut, Abah Sabrang Alam belajar banyak mengenai jenis-jenis pusaka hingga pada tuah yang ada pusaka tersebut. Abah Sarang Alam yang mulai mengagumi keindahan pusaka, sedikit demi sedikit beliau mulai mengumpulkan dan mengoleksi berbagai jenis pusaka. Khususnya pusaka keris.


Bagi Abah Sabrang, tiap-tiap keris memiliki nilai filosofis tersendiri. Inilah yang menjadi bagian dari alasan kecintaan beliau pada keris. Nilai-nilai filosofis yang tertuang di dalam bentuk fisik keris tersebut yang mencerminkan kehidupan. Bahkan menjadi suatu kebetulan, jika apa yang menjadi kegemaran beliau (yaitu mengoleksi Pusaka) ternyata bagian dari syarat sebagai seorang pria Jawa yang sejati. Syarat kesempurnaan yang terwujud dalam lima unsur: Wisma (rumah), wanita (istri), Kukila (burung/hobi), Turangga (kuda/kendaraan), dan terakhir Curiga (keris/pusaka).


Pusaka-pusaka tersebut didapatkan dari berbagai tempat di penjuru nusantara. Ada yang didapatkan dengan melakukan barter dengan sesama pengagum pusaka. Ada pula pusaka yang kedatangannya secara misterius, melalui pertanda tertentu yang didapatkan melalui isyarat mimpi.

 

 

Pengalaman Mati Suri

Masa itu, usia Abah Sabrang Alam baru 12 tahun. Suatu malam, waktu perjalanan pulang dari musola (tempat mengaji), tiba-tiba beliau terjatuh dan tidak sadarkan diri. Teman-temannya yang panik berteriak meminta tolong. Sesaat kemudian, beberapa orang dewasa mengangkat dan mengantar tubuh Abah Sabrang Alam ke rumah orang tuanya.

 

Keluarga berupaya menyadarkan Abah Sabrang Alam dengan berbagai cara, namun tubuh Abah Sabrang Alam tetap dalam kondisi tidak sadar. Hingga, datang seorang mantri (perawat) yang memeriksa. Setelah memeriksa dengan seksama, Sang Mantri menyatakan bahwa Abah Sabrang Alam sudah meninggal dunia. Padahal, Abah Sabrang Alam tidak punya penyakit sebelumnya. Dan jatuhnya pun tidak menimbulkan luka yang berarti.

 

Keluarga sempat menangis dan histeris, namun sekitar 10 menit kemudian, tiba-tiba tubuh Abah Sabrang Alam bergerak, lalu duduk dan bertanya "Ono opo? Kok ono wong akeh ning kene?" (Ada apa, kok ada banyak orang disini?). Ternyata Abah Sabrang Alam baru saja mengalami mati suri.

 

 

 

Bertemu Sosok Gaib

Ketika tubuh Abah Sabrang Alam dinyatakan mati, ternyata roh-nya berkelana di Alam Ghaib. Abah Sabrang Alam mengisahkan bahwa ketika tubuhnya terjatuh, dia merasakan roh-nya tersedot ke atas dan tiba-tiba beliau menyadari sedang berada di suatu taman pepohonan yang indah, sejuk dan terdengar suara seruling bambu yang merdu. Sesat kemudian, munculah seorang kakek berpakaian jawa yang ramah. Sang kakek mengatakan "Ora usah wedi le, aku sing ngerumat kue" (Tidak usah takut nak, aku yang merawat kamu).

 

Tanpa mengucapkan kata apapun, Sang Kakek menggandeng Abah Sabrang Alam untuk berkeliling melihat keindahan Alam Ghaib. Abah Sabrang Alam mengaku tidak mengenali sosok kakek ini sebelumnya, namun batinnya merasakan pancaran kebaikan dari Sang Kakek, sehingga dia mau mengikuti sang kakek tanpa rasa cemas. 

 

Setelah beberapa waktu berkeliling, Sang Kakek mengucapkan "Wektune kue muleh le, Mengko simbah bakal dolan ning omahmu" (Waktunya kamu pulang nak, nanti Kakek akan main ke rumahmu). Setelah itu, Abah Sabrang Alam bersalaman dengan Sang Kakek, dan tiba-tiba sudah terbangun di rumah.

 

 

Asal Mula Nama "Abah Sabrang Alam"

Dalam tirakat safar itu Abah Sabrang Alam banyak mengalami pengalaman-pengalaman mistis saat berada di petilasan Sunan Kalijaga. Salah satu pengalaman mistisnya yaitu saat ia bermunajat tiba-tiba ada suara gaib yang memanggilnya dengan sebutan “Sabrang Alam”. Awalnya ia tidak menggubris, karena dalam benaknya barangkali ia salah dengar. Namun, lama-lama suara itu begitu jelas terdengar. Anehnya tidak ada seorang pun di situ kecuali dirinya. Saat itulah ia didatangi sosok yang sama yang pernah menemuinya di Masjid Kadilangu. Dari pertemuan itu, Abah Sabrang Alam pun mendapat banyak wejangan tentang ilmu batin, meraga sukma, ilmu hakikat, dan pemahaman tentang pusaka-pusaka mistis dan mustika yang ada di alam gaib.

 

Semenjak bertemu dan belajar kepada sosok gaib Sunan Kalijaga itu, Abah Sabrang Alam mulai memperlihatkan peningkatan kewaskitaannya. Ia mulai biasa merasakan keberadaan benda-benda pusaka di suatu tempat keramat. Sekaligus menarik benda pusaka tersebut dari alam gaib. Bahkan perkara yang mudah baginya, jika ia ingin menembus ke dimensi astral. Mulai sejak itulah gelar “Abah Sabrang Alam” melekat erat dengannya. Karena kemampuannya menyeberang atau memasuki alam gaib dengan sangat mudah.

 

Seseorang yang mempunyai bakat ghaib dan mau mengasah kemampuannya maka akan semakin menunjukkan kehebatan yang tidak dapat dimiliki orang lain pada umumnya. Kelebihan yang tak kalah istimewanya, Abah Sabrang Alam juga mampu memanggil dan mengisi suatu pusaka dengan khodam putih yang berderajat tinggi di alamnya. Akan tetapi tidak semua orang mempunyai hal semacam Abah Sabrang Alam kalau bukan karena Kuasa Sang Pencipta Alam. 

 

 

 

Kegiatan Abah Sabrang Alam Saat ini

Sebagai seorang kolektor pusaka, keseharian Abah Sabrang Alam dipenuhi dengan kegiatan memburu pusaka yang unik dan bernilai seni tinggi. Selain itu, kelebihan beliau dalam hal spiritual dan supranatural, juga menjadi bagian kegiatan keseharian beliau untuk melayani dan membantu masyarakat di berbagai tempat di nusantara. Beliau melayani masyarakat yang hendak berkonsultasi mengenai berbagai permasalahan dalam kehidupan.  Kini beliau menjabat sebagai Ketua Organisasi Pusat Metafisika Asia (PMA) bersama dengan beberapa spiritualis dan praktisi yang lain.

 

Pusat Metafisia Asia adalah sebuah organisasi yang bergerak di bidang Sumber daya Manusia, khususnya bidang metafisika/ghaib. Tujuan beliau tidak lain hanyalah untuk mempermudah menyalurkan bakat dan kelebihan khusus yang dimilikinya agar lebih bermanfaat untuk khalayak.

 

Selain itu, beliau juga biasa mendapat undangan khusus untuk memimpin ritual dan ruwatan di berbagai tempat. Bagi beliau, semulya-mulyanya manusia adalah manusia yang bisa bermanfaat bagi kehidupan manusia lainnya. Oleh sebab itulah, tiada lelah beliau akan selalu bersikap terbuka bagi siapapun yang membutuhkan bantuannya di bidang ilmu ghaib tentunya.